Rembuk Stunting Desa Wonodadi Fokuskan Program Penurunan Kasus Tahun 2027 Wonodadi
wonodadi-blitarkab.desa.id – Pemerintah Desa Desa Wonodadi, Kecamatan Wonodadi menggelar kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2026 pada Selasa, 26 Mei 2026, bertempat di Balai Desa Wonodadi. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Wonodadi, Kepala Puskesmas Wonodadi, bidan desa, Ketua LPMD, Ketua BPD beserta anggota, perangkat desa, Pendamping Desa, kader posyandu, PKK Wonodadi, tokoh agama (Toga), serta tokoh masyarakat (Tomas).

Dalam sambutannya, Kepala Desa Wonodadi menyampaikan bahwa rembuk stunting yang dilaksanakan tahun ini akan menjadi dasar penyusunan program penanganan stunting pada tahun 2027 mendatang. Ia berharap, berbagai upaya yang dilakukan dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi tumbuh kembang anak-anak di Desa Wonodadi.
“Rembuk stunting yang dilaksanakan hari ini akan menjadi program tahun 2027. Semoga mendapatkan hasil yang lebih baik untuk anak-anak kita,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Wonodadi, Dr. Ari menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghambat dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan angka stunting. Menurutnya, seluruh unsur masyarakat harus dioptimalkan agar program penanganan stunting tetap berjalan maksimal.
“Dengan keterbatasan anggaran, kita harus tetap mengoptimalkan seluruh potensi yang ada di masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pencegahan dan percepatan penurunan angka stunting,” katanya.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa saat ini terdapat sembilan anak di Desa Wonodadi yang terindikasi stunting. Salah satu kader posyandu, Indri, mengungkapkan bahwa jumlah kasus stunting mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2024 tercatat lima anak, tahun 2025 meningkat menjadi tujuh anak, dan pada tahun 2026 bertambah menjadi sembilan anak.
Dari sembilan anak tersebut, satu anak berusia di bawah dua tahun dan delapan lainnya berusia di atas dua tahun. Kondisi ekonomi keluarga penderita stunting pun beragam, mulai dari keluarga kurang mampu hingga keluarga yang tergolong mampu.

Indri menjelaskan, peningkatan kasus stunting terjadi meskipun pemerintah desa, kecamatan, maupun pihak puskesmas telah melakukan berbagai intervensi dan pendampingan secara langsung kepada keluarga sasaran. Menurutnya, salah satu faktor utama penyebab kenaikan kasus adalah rendahnya sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya pengetahuan orang tua terkait pola asuh dan kesehatan anak.
Hal senada disampaikan Bidan Desa Wonodadi, dr. Sabita. Ia mengatakan bahwa kenaikan jumlah kasus stunting pada tahun 2026 dipengaruhi rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu dan imunisasi. Bahkan, terdapat sejumlah orang tua yang menolak imunisasi bagi anaknya.
Meski demikian, Pemerintah Desa Wonodadi bersama tenaga kesehatan dan seluruh elemen masyarakat tetap berkomitmen melakukan berbagai upaya pencegahan serta percepatan penurunan angka stunting demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.

